Tampi, Potret Kegigihan Penjual Jamu Gendong

Hampir tiap pagi Tampi mangkal di gang Haji Naim, sebelum melanjutkan perjalanan ke daerah Meruya Utara, Kembangan, Jakarta Barat. Tampi tetap setiap berkeliling jalan kaki menjajakan jamu dan barang dagangan lainnya. Saat pedagang jamu lain sudah menggunakan sepeda bahkan motor, ia tetap setia jalan kaki.

“Saya ndak bisa naik motor dan sepeda, Mas,” kata Tampi.

Sebelum berjualan jamu, Tampi lebih dulu berjualan makanan di Pasar Toroh, Grobogan, Jawa Tengah. Sejak kecil, Tampi sosok mandiri, sebagian masa kanak-kanaknya dihabiskan untuk usaha dan tak ingin merepotkan keluarga karena kondisi keuangan keluarga.

“Saya ndak sekolah dan ndak bisa baca. Orangtua saya ndak menyekolahkan saya saat kecil, tapi kalau soal uang saya ngerti, meski ndak sekolah, Mas,” kata Tampi tertawa.

Sejam mangkal di gang Haji Naim, Tampi kemudian melanjutkan perjalanannya ke Meruya Utara. Ia melewati puluhan rumah dari tempatnya mangkal itu.

“Paling saya dapat 150 ribu sampai 200 ribu setelah keliling. Itu hasil dari penjualan jamu dan makanan yang saya bawa,” kata Tampi.