Restoran Terapung, Tempat Rekreasi Warga Somalia Usai Bajak Laut Menghilang

Dengan keamanan ekstra dan pos-pos pemeriksaan untuk melindungi bentangan pasir 2,5 km dari kemungkinan serangan ekstremis, pantai ini menawarkan tempat untuk melarikan diri dari ibu kota yang dilanda pertempuran.

“Duduk di Pantai Lido, minum teh atau kopi di malam hari, Anda dapat melihat warna yang berbeda dan kadang-kadang merasa bahwa Anda berada di dunia lain,” kata Omar Abule, manajer agen perjalanan Visit Mogadishu, menggambarkan perairan berwarna kobalt dan matahari terbenam semburat oranye.

Keluarga-keluarga terjun ke dalam air. Para wanita dari negara konservatif religius ini masih mengenakan jilbab dan pakaian longgar saat mereka duduk atau berenang di laut.

Pengunjung yang merasa lebih suka berpetualang dapat mengenakan jaket pelampung dan meluncur ke La Lanterna ketika kapal itu melintas dekat pantai. Setelah naik, mereka bisa minum kopi atau minum dingin dan memesan makanan ringan, kesempatan untuk melupakan tantangan di darat.

“Saya senang bisa naik kapal seperti ini,” kata Samira Mohammed di La Lanterna. “Datang ke Pantai Lido memberi Anda harapan besar.”

Abdifitah Mohamed Siyad, direktur pariwisata dan investasi di pemerintah lokal Mogadishu, mengatakan kota itu telah hancur oleh perang dan kebanyakan orang memiliki “kisah duka”.

“Obat bagi orang-orang adalah menciptakan kebahagiaan bagi mereka, menciptakan lingkungan untuk pariwisata, waktu bagi mereka untuk tur, ada waktu bagi mereka untuk mengobrol dan melupakan masa lalu,” katanya.