Refleksi Teknologi Digital Masa Kini Lewat Fashion Show

Liputan6.com, Jakarta – Ada banyak cara untuk merayakan HUT ke-74 RI. Salah satunya dengan menampilkan fashion show. Empat alumnus Sparks Fashion Academy (SFA) menggelar show di acara Fashiontastic Pondok Indah Mall, pada pekan lalu. Mereka adalah Bunga Hatti Khanafi, Eka Adrianie, Zohraeni dan Ellin Syahputrie.

Tema  ‘The Transition’ dipilih untuk melihat betapa ekspansifnya teknologi digital masa kini. Karya keempat desainer ini menghasilkan inovasi yang menggabungkan antara futuristik dan mystical creature. Konsepnya diwujudkan dalam busana ready to wear yang edgy dan versatile.

Seperti karya desainer muda Bunga Hatti Khanafi (18), yang mengusung tema “Light Fusion”. The Trasition diterjemahkan dalam pola busana tabrak warna. Koleksi Bunga terinpirasi dari Cyborg. Cutting bajunya loose dan bergaya edgy, sangat nyaman dikenakan gaya muda millenial yang futuristik.

Selanjutnya karya Zohraenny, salah satu siswa SFA lulusan Specialized Program Evening Gown, mengangkat konsep “Neo Culture Technologi”. Konsep ini menjelaskan tentang sebuah transisi, yaitu perubahan budaya dari masyarakat tradisional ke teknologi digital.

Desainer yang biasa disapa Zo terinspirasi dari makhluk mitologis bernama Kitsune. Karakter serigala berekor sembilan yang memiliki karakteristik kuat, pintar, licik, menggoda dan anggun.

Isu lingkungan juga ditampilkan oleh Zo, misalnya dengan memaksimalkan sisa potongan bahan menjadi detail cutting, atau kalau dalam pola desaign disebut creative fabric.

Berikutnya karya Eka Adrianie, lulusan Fashion Business Program mengangkat tema “Lindu”. Karyanya terinspirasi dari cerita rakyat Indonesia tentang gambaran dari seekor Naga Besar Mythical yang melindungi bumi. Koleksi ini menggabungkan cerita rakyat dengan gangguan digital saat ini.

Gangguan digital ini sudah membuat beberapa gempa bumi, karena mengubah perilaku manusia. Gangguan Digital adalah metamorfosis Lindu di era digital dan menciptakan budaya digital dengan Kelincahan, Eksperimen, dan Inovasinya. Eka menggunakan unsur kain Indonesia Batik dengan motif khusus yang dibuat oleh pelukis batik.

Fashion Show Sparks Fashion Academy. foto: istimewa

Berbeda dengan karya Ellin Syahputri. Siswa lulusan GPF Program SFA ini mengusung tema DIVINE. Ia mengambil cerita dari mitologi Yunani kuno, khususnya Dewi Kecantikan Athena. Busananya didominasi dengan warna emas dan putih, Ellin mengambarkan keanggunan Athena di era teknologi, kesan anggun namun kuat terlihat dari cutting koleksinya dan ornament asesoris yang berbahan logam.

The Trasitition diusung SFA sebagai tema show sepanjang 2019. Tema ini ditampilkan tidak hanya di panggung Fashiontastic, tapi juga di ajang bergengsi Indonesia Fashion Week pada Maret lalu.

Dari berbagai ajang show yang ditampilkan, SFA akan memberikan hadiah beasiswa kepada The Best Design The Transition dengan total hadiah senilai Rp10 juta. Juara pertama akhirnya diraih oleh Bunga Hatti Khanafi, serta Eka Adrianie sebagai juara kedua.

Pagelaran show SFA di fashiontastic kali ini, juga dimeriahkan dengan tampilan khusus dari para pemenang Revive The 80’s – DUST Fashion Design Competition yang merupakan kerjasama antara lokal brand DUST dengan SFA. Acara tersebut baru saja usai di ajang Jakarta Fashion and Food Festival 2019. Mereka adalah Sherlyta Puspa, Saphira, Rona Zulfia dan pemenang favorit yakni Maria Juliani.

“Memberikan pengalaman sebanyak-banyaknya dan melibatkan siswa dalam berbagai event merupakan tujuan SFA melalui taglinenya “Turning Fashion Into Business”. Ini untuk semakin membuka wawasan siswa terhadap realita dunia fashion,” terang Floery D. Mustika selaku CEO SFA.

“Kami melibatkan siswa tidak hanya dalam pegelaran busana saja, tapi juga dalam pengelolaan event. Jadi ketika suatu saat mereka akan membuat show nya sendiri, mereka paham apa yang harus dilakukan, sekaligus mereka bisa melihat peluang bisnis dari sebuah event,” lanjut Floery.