Menanti Hutan Kota Jadi Ikon Ibu Kota di Jantung Jakarta

Liputan6.com, Jakarta – Bila Anda pernah datang ke kawasan Gelora Bung Karno, Anda akan menemukan dua bangunan beratap sirap yang menempati lahan bekas lapangan golf. Di kawasan itulah hutan kota akan berada.

Desain hutan kota yang pengelolaannya diserahkan kepada Plataran itu merujuk pada Central Park di New York, Amerika Serikat. Yozua Makes, pemilik Grup Plataran berambisi menjadikan tempat tersebut menjadi ikon Jakarta di kemudian hari.

“Ini tempat namanya Hutan Kota. Walau bukan hutan as perse, tapi ada fasilitas kosmopolitan yang menyatu dengan alam yang bisa kini miliki sebagai kebanggaan Indonesia,” ujar Yozua, dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu, 9 Oktober 2019.

Dari lahan seluas 4,5 hektare, 3,2 hektarenya akan dijadikan Hutan Kota by Plataran. Tak sekadar lahan terbuka hijau, tempat tersebut juga akan membuka dua restoran, coffee lounge, dan MICE yang bisa menampung hingga 2.000 tamu.

Plataran menggandeng biro konsultan arsitektur ternama Hadiprana untuk merancang interior dan eksterior Hutan Kota yang menonjolkan ke-Indonesia-an. Salah satunya dihadirkan lewat desain taman yang membawa konsep 17-8-45, yakni hari kemerdekaan Indonesia.

Angka 17 diwakili lewat pendirian 17 totem yang akan mencantumkan nama-nama tokoh inspiratif. “Tidak hanya yang sudah meninggal dunia, tetapi juga yang masih hidup yang berjasa. Misalnya, Nabiel Makarim. Bagaimana dia bisa meng-create perusahaan start-up menjadi unicorn pertama di Indonesia,” ujar Yozua.

Sementara, angka delapan diwakili oleh pohon pulai berjumlah tersebut. Angka 45 diwakili penanaman 45 pohon ketapang. Seluruh pohon itu diharapkan bisa merindangkan kota, khususnya di wilayah GBK.

Sebuah pohon beringin yang cukup tua dipertahankan di taman depan, sekaligus sebagai perlambang pohon yang menjadi tempat Bung Karno menyusun Pancasila. Tak jauh dari situ terdapat lima tiang pancang yang menjadi perlambang lima sila Pancasila.

Nuansa Indonesia yang kental juga terlihat lewat penggunaan batu bata yang cukup dominan, khususnya pada pagar yang mengelilingi bangunan utama. Ditata sedemikian rupa agar tidak terlalu tertutup, tetapi juga tak terlalu terbuka.

Dari struktur bangunan, Yozua menyatakan tak akan ada bangunan baru yang didirikan, kecuali musala. Namun, bangunan yang eksisting akan direvitalisasi. Sebagian dindingnya akan diubah menjadi kaca, terutama untuk coffee lounge.

“Di atasnya nanti ada rooftop. Kebayang nggak, sore-sore ngopi di sini, sekelilingnya bisa melihat panorama gedung-gedung tinggi. Cakep kan?” ucapnya.

2 dari 3 halaman

Mengundang Hewan

Penampakan Hutan Kota by Plataran dalam tahap pembangunan. (Liputan6.com/Dinny Mutiah)

Area-area itu hanya bisa diakses oleh para tamu restoran. Namun, ada pula area yang bisa digunakan oleh publik, seperti lapangan basket, jogging track, dan tempat bermain hewan peliharaan, dengan catatan menjaga kebersihannya.

Khusus tempat bermain hewan, area terbuka dirancang memiliki septic tank agar kebersihannya terjaga. Area juga ditata sedemikian rupa agar anjing yang berukuran besar dan kecil bisa bermain terpisah.

“Soalnya kalau disatukan, anjing yang kecil jadi kalah,” kata dia.

Tak hanya anjing, ia juga berencana mengundang agar burung bisa mampir ke lokasi itu. Untuk itu, ia akan menambah ratusan pohon lagi yang nantinya bisa menjadi habitat burung.

“Kami berpengalaman mengelola area konservasi, khususnya burung. Burung Jalak Bali di Pulau Menjangan bisa dikonservasi. Kami yakin bisa mengundang burung juga di sini,” ujar Yozua.

Mengingat bisa diakses publik umum, akan ada pintu berbeda sebagai jalan masuk. Dengan begitu, Hutan Kota by Plataran bisa tetap menjadi area privat.

Ia menargetkan Hutan Kota by Plataran mulai dibuka pada 19 Desember 2019. “Tanggal 21 akan menjadi event pertama kami, yakni 100 tahun RSCM,” katanya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: