Kuliner Malam Jumat: Ketagihan Lezatnya Iga Panggang Panglima

Liputan6.com, Jakarta – Hanya tinggal beberapa kursi plastik yang tersisa berjajar rapi di bawah deretan meja kayu. Mereka belum lama ditinggal orang-orang dengan perut yang sudah penuh terisi satu atau dua porsi sajian Iga Panggang Panglima.

Aroma bakaran yang membuat perut makin keroncongan masih terus memenuhi ruang. Jumat malam di kedai sederhana di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, ini juga berisi tumpukan perbincangan hangat diselingi tawa di sana-sini.

Eits, jangan tertipu suasana serba homey yang dihadirkan. Pasal, iga panggang di sini boleh diadu dengan yang ada di deretan restoran Ibu Kota“Karena ini lebih ke western, banyak orang membandingkan dengan yang ada di resto-resto,” kata pemilik Iga Panggang Panglima, Budi, saat ditemui di kedainya, Jumat, 9 Agustus 2019.

“Bisa dibilang, yang jualan ribs pinggir jalan itu di sini pioneer-nya,” sambung Budi. Ia menambahkan, konsep kaki lima sengaja diusung, lantaran ingin semua kalangan bisa menikmati kelezatan sajian iga panggangnya.

Budi bercerita, dirinya mulai akrab memasak iga ketika menempuh pendidikan di Australia pada tahun 90-an. Kala itu, ia sering kali kebagian membakar iga saat barbeque bersama teman-teman. “Saya coba (buat iga panggang), mereka bilang enak,” ceritanya.

Kendati tak mengenyam pendidikan di bidang F&B, setelah lulus, Budi, didorong kegemarannya memasak, malah bekerja di sebuah restoran di Negeri Kanguru. Sampai pada suatu kesempatan, ia ditantang chef untuk membuat sajian iga. “Kayak teman-teman saya, chef-nya juga ternyata suka,” ucapnya.

Pulang ke Indonesia di awal 2000-an, Budi sempat bekerja, tapi tak sepenuhnya menyukai apa yang dilakukan. Karenanya, ia mulai kembali masuk dapur dan membuat rajikan bumbu iga andalannya. Berawal dari coba menyajikannya untuk saudara dan teman, respons baik yang diterima membuat ide ini berekspansi.

Berawal dari Halaman Rumah

Kuliner Jakarta
Iga Panggang Panglima di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. (Liputan6.com/Asnida Riani)

Respons positif yang didapat membuat Budi dibantu istinya berani membuka kedai iga panggang di halaman rumah mereka di kawasan Panglima Polim, Jakarta Selatan. “Awalnya saya yang potong, yang bakar. Istri urus kentang sama jagung,” ceritanya.

Ia menambahkan, pelanggan banyak yang kembali lagi karena harga murah dan potongan iga besar. Promosi di waktu-waktu awal pun bukan hal mudah. Kala itu, Budi memilih memberi sajian iga gratis pada sejumlah teman.

“Besok dia bawa temannya yang lain, saya bisa kasih minum gratis. Words of mouth itu memang ampuh banget sampai terus lama-lama ramai,” ujarnya.

Dua tahun bertahan di halaman rumah, kuantitas pelanggan yang makin menjanjikan membuat Budi memindahkan usahanya ke kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dan terus hingga sekarang.

Dari awalnya hanya satu, ia kini dibantu empat karyawan dalam memenuhi pesanan setiap harinya. Tak dipungkiri Budi bahwa setahun pertama berjualan adalah waktu paling berat yang, syukurnya, sudah bisa terlewati.

Ia mengatakan, seporsi iga panggang awalnya dijual Rp25 ribu saja. Kenaikan yang terjadi bertahun setelahnya, Budi menjelaskan, mengikuti harga iga sebagai bahan baku utama. Juga, ia tak pernah absen memerhatikan kualitas iga.

“Jaga kualitas, apalagi kayak saya yang sudah 15 tahun berjualan, jadi sangat penting. Supplier selama ini bisa jaga kuota dan kualitas yang saya mau. Jadi, yang disajikan di sini semuanya iga pilihan,” tuturnya.

Ketimbang blackpaper dan hot lemon, original disebut Budi sebagai saus favorit untuk disajikan bersama iga panggang berpotongan cukup besar. Juga, proses penggodokan iga selama tiga jam tak pernah luput dilakukan agar teksturnya empuk dan bumbu lebih mudah meresap.

Capai 100 Porsi Setiap Hari

Kuliner Jakarta
Iga Panggang Panglima di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. (Liputan6.com/Asnida Riani)

Sudah ramai sejak 2007, rata-rata setiap harinya Iga Panggang Panglima mampu menjual sampai 100 porsi iga. Budi mengatakan, pelangannya berasal dari lintas usia, mulai dari anak-anak sampai lansia.

Berjualan selama belasan tahun, pelanggan Budi tak hanya dari dalam, tapi juga luar kota, bahkan luar negeri. “Mereka sering bilang rasa iga di sini ngangenin. Setiap ke Jakarta pasti makan ke sini. Beberapa sampai bungkus buat nantinya dimakan di rumah,” katanya.

“Iga di sini juga bisa dipesan untuk acara-acara khusus, seperti pesta ulang tahun, pernikahan, atau peringatan lain dengan minimal 50 porsi. Kami bisa kirim pelayan untuk bakar dan disajikan langsung di sana,” tutur Budi.

Setahun terakhir, Budi mengatakan harga seporsi iga di sini dibanderol Rp95 ribu. Dalam waktu dekat, ia mengatakan akan ada sedikit kenaikan harga. “Tidak sampai (Rp)5 ribu,” tambahnya.

Buka setiap hari dari pukul 11.00–21.00 WIB, di samping langsung menyambangi kedai Iga Panggang Panglima, sajian ini juga bisa dibeli lewat layanan ojek online.

Kami menerima kontribusi konten untuk rubrik Kuliner Malam Jumat, yaitu tempat kuliner cukup dikenal, punya ciri khas, dan masih buka pada malam hari. Konten harus berupa tulisan, foto, dan video berdurasi sekitar tiga menit.

Tulisan berupa cerita mendalam tentang tempat kuliner malam yang diangkat sekitar 1.000 sampai 1.500 kata, foto minimal lima buah, dan video. Format konten video bisa dilihat dari video Kuliner Malam Jumat yang sudah ditayangkan.

Hasil liputan dikirim ke email: dinny.mutiah@kly.id. Tersedia hadiah menarik bagi karya terpilih. Untuk pertanyaan lebih detil tentang konten liputan Kuliner Malam Jumat, bisa ditanyakan melalui alamat e-mail yang sama.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓