Kisah Benteng Bintang Goryokaku dan Jejak Pengikut Shogun yang Tersisa di Hakodate

Liputan6.com, Jakarta – Hakodate, kota terbesar ketiga di Pulau Hokkaido, Jepang, menyimpan banyak cerita. Salah satunya soal benteng peninggalan pengikut Shogun Tokugawa yang berbentuk bintang.

Namanya adalah Benteng Goryokaku. Tempat yang didesain Ayasaburo Takeda, seorang profesor di Hakodate Shojutsu Shirabesho, itu terinspirasi dari benteng kota gaya Eropa yang diperkenalkan seorang Prancis.

Pengerjaan konstruksi benteng itu membutuhkan waktu tujuh tahun sebelum bisa digunakan menjadi basis pertahanan dan politik di Ezo pada 1864. Tiga tahun kemudian, Kaisar Jepang memulai Restorasi Meiji.

Namun, tak semua pendukung Shogun Tokugawa menyetujui perubahan kebijakan Kaisar Jepang yang membuka diri pada dunia luar, termasuk membuka Pelabuhan Hakodate kepada Amerika Serikat. Mereka para desertir dipimpin oleh Takeaki Enomoto melarikan diri ke Hakodate dan mengambil alih Benteng Goryokaku.

Pemerintah pusat tak tinggal diam. Mereka memerintahkan sejumlah pasukan menyerang sisa pendukung shogun agar menyerahkan diri. Pertempuran hebat pun pecah. Perang antarsaudara yang puncaknya pada 1868 itu disebut Perang Boshin.

Dalam peperangan itu, seorang prajurit pengikut Shogun bernama Toshizo Hijikata beserta anak buahnya yang berpengalaman tewas. Perang pun berakhir dengan pendudukan kembali benteng oleh pasukan Kaisar Jepang.

Patung perunggu Toshizo Hijikata, salah satu pemimpin pasukan Shogun Tokugawa yang tewas dalam pertempuran di Benteng Goryokaku, Hakodate. (Liputan6.com/Dinny Mutiah)

Meski saat itu diposisikan sebagai pembangkang Kaisar Jepang, perlawanan hebat Toshizo Hijikata justru dikenang dalam wujud patung dirinya. Patung itu diletakkan di lantai bawah dan paling atas menara Goryokaku.

Liputan6.com bersama rombongan Japan National Tourism Organisation (JNTO) berkesempatan melihat benteng bersejarah era awal Restorasi Meiji itu dari menara Goryokaku pada pekan lalu. Di lantai teratas menara, kita bisa melihat rangkaian cerita pertempuran yang berpusat di benteng bintang itu dalam 16 diorama.

Salah satu yang menarik perhatian saya saat itu adalah bendera Merah Putih yang dipegang sebuah patung prajurit pada salah satu diorama. Ken Satoh, perwakilan dari Departemen Pariwisata Kota Hakodate yang menemani kunjungan saya saat itu mengaku tak tahu alasan memasang bendera tersebut.

“Namun yang pasti, tak ada orang Indonesia yang terlibat dalam perang tersebut,” katanya, saat itu.

2 dari 3 halaman

Empat Wajah Berbeda

Interior menara pandang Menara Goryokaku di Hakodate. (Liputan6.com/Dinny Mutiah)

Benteng bintang Goryokaku hanyalah salah satu dari puluhan benteng berbentuk pentagonal di dunia. Lewat peta yang dipasang di menara, Indonesia termasuk salah satunya yang diwakili oleh Benteng Rotterdam di Makassar.

Di tengah-tengah benteng itu berdiri bangunan beratap menyerupai segitiga khas bangunan tradisional Jepang. Awalnya, gedung tersebut difungsikan sebagai balai kota. Namun, menurut Satoh, bangunan itu hancur lebur akibat perang dan baru selesai dipugar pada 2010.

Dalam pamflet yang dibagikan diceritakan bahwa pada era Taisho, sekitar 1.600 batang pohon sakura ditanam di area benteng. Hal itu mengubah wajah benteng menjadi lebih cantik saat musim semi hingga otoritas kemudian membuka Goryokaku sebagai taman publik pada 1914.

Beragam kegiatan unik digelar di Goryokaku setelah itu, salah satunya Festival Goryokaku Hakodate. Acara utama festival yang digelar setiap awal musim panas itu adalah Parade Restorasi Meiji.

Tema utama yang diangkat adalah mengenang kedatangan Komodor Perry dari Amerika Serikat yang menandai pembukaan benteng bintang tersebut. Wajah benteng pun berubah dengan dominasi warna hijau saat musim itu.

Rupa benteng kembali berbeda memasuki musim gugur. Dedaunan hijau berganti warna menjadi merah. Hal itu bisa terlihat jelas dari menara.

Memasuki musim dingin, disebut pula masa Hoshi no Yume alias Mimpi Bintang Pentagonal, Goryokaku terlihat bercahaya dengan 2.000 lampu menyala mengitari parit saat malam. Sementara saat siang, salju putih menutupi permukaan benteng yang bahkan air pada parit berubah menjadi tumpukan es.

3 dari 3 halaman

Dari Atas atau Bawah

Bendera Indonesia hadir dalam salah satu diorama di lantai 2F Menara Goryokaku, Hakodate, Jepang. (Liputan6.com/Dinny Mutiah)

Menikmati waktu di Benteng Goryokaku bisa dilakukan dengan dua cara. Pertama, tentu menjelajah langsung ke dalam benteng lewat darat. Berjalan kaki di taman sepanjang 4,1 kilometer dalam waktu 100 menit bisa membakar 300 kcal loh!

Dalam sebuah pamflet diberitahukan bahwa taman dibuka mulai 21 April hingga 20 Oktober, mulai pukul 8 pagi hingga 7 malam. Di sana, Anda bisa mendatangi beberapa spot penting dalam benteng dalam jarak dekat.

Anda juga bisa menikmati Goryokaku dari menara pandang 360 derajat. Di lantai dasar, Anda bisa mengisi perut di kafe sambil memandang taman Goryokaku yang saat saya datang, pohonnya meranggas. Atau, Anda bisa membeli suvenir khas Hakodate di sini dengan harga jual sama seperti di toko oleh-oleh lainnya.

Anda juga bisa langsung beranjak ke observatorium di lantai atas dengan membeli tiket seharga 900 yen untuk orang dewasa, siswa SMP/SMA 680 yen, siswa SD 450 yen, dan gratis untuk anak di bawah 5 tahun. Keseruan bahkan dimulai sejak dalam lift yang membawa rombongan kami ke atas. Alami saja sendiri dan Anda akan tahu alasannya.

Menara pandang terbagi menjadi dua lantai. Di lantai teratas, Anda bakal mendapatkan pemandangan bebas Benteng Goryokaku sambil menikmati 16 diorama untuk memahami cerita sejarah benteng bintang itu. Sedangkan di lantai bawahnya, Anda bisa menikmati sajian menu kafe sambil uji nyali berdiri di atas lantai kaca tembus pandang. Nah, sekarang tentukan rute mana yang mau diambil.

Saksikan video pilihan berikut ini: