Katedral Notre Dame Paris, Lebih dari Sekadar Tempat Ibadah

Liputan6.com, Jakarta – Katedral Notre Dame Paris terbakar hebat. Kejadian tersebut merupakan yang terparah dalam sejarah gereja setelah terakhir kali terjadi pada Revolusi Prancis, sekitar 300 tahun lalu.

Melansir CNN, Paus Alexander III meletakkan batu pertama Katedral Notre Dame pada 1163. Pembangunannya rampung sekitar abad ke-13. Saat ini, bersama menara, puncak menara, penopang melayang, dan kaca patri, katedral tersebut dinilai sebagai karya arsitektur penting, tempat ibadah, sekaligus simbol kebudayaan Prancis.

Berlokasi di Île de la Cité, pulau kecil di tengah kota, katedral itu menjadi salah satu destinasi wisata terpopuler di Paris. Setidaknya 13 juta pengunjung datang ke katedral tersebut setiap tahunnya.

Katedral tersebut juga menjadi saksi penobatan Napoleon Bonaparte sebagai raja pada 1804. Puncak menara yang dibangun pada abad 19 saat itu membutuhkan upaya restorasi besar-besaran, dananya sebagian ditopang oleh kesuksesan The Hunchback of Notre Dame pada 1831.

Katedral juga menyimpan banyak benda penting, di antara Mahkota Duri, grand organ yang menjadi instrumen musik paling ternama di dunia, dan sejumlah benda seni. Vatikan menyebut Takhta Suci menyayangkan kerusakan dahsyat yang dialami simbol Kristen di Prancis dan dunia tersebut.

Tetapi untuk banyak orang Prancis, Notre Dame lebih dari rumah ibadah. Penulis Prancis, Bernard-Henri Levy mengatakan katedral itu menjadi simbol budaya, arsitektur, dan sejarah Prancis.

“Bagaimana bisa Anda membangun kembali delapan hingga sembilan abad sejarah? Bagaimana Anda dapat membangun kembali air mata, bisikan, dan memori seluruh negara dan seluruh kebudayaan,” katanya.