Cerita Akhir Pekan: Kolaborasi Rasa Tak Biasa, Mampukah Bertahan?

Liputan6.com, Jakarta – Ragam inovasi di dunia kuliner tak jarang melahirkan sajian yang bukan hanya unik, tetapi menyuguhkan kolaborasi rasa yang tidak biasa. Umumnya, tingkat popularitas makanan ini akan melonjak seiring dengan rasa penasaran para penikmat.

Belakangan, kerap ditemui perpaduan bahan-bahan yang ‘akrab’ di lidah masyarakat Indonesia lalu ditambah sentuhan pendamping yang memberi sensasi berbeda saat disantap.

Salah satu sajian yang mencuri perhatian dan tengah viral adalah kombinasi antara mi instan dan boba, bola-bola yang terbuat dari tapioka dengan tekstur kenyal. Rasa ingin tahu publik mungkin seketika terlecut untuk merasakannya.

Kuliner dengan kombinasi rasa yang tidak biasa kemudian menjadi tren di masyarakat. Apakah makanan-makanan tersebut dapat bertahan di pasaran? William Wongso, selaku pakar kuliner menanggapi.

“Tren tidak akan lama bertahan karena orang terbiasa dengan makanan-makanan sehari-hari yang populer seperti soto, sate, gado-gado. Makanan kreasi yang hype biasanya adalah camilan,” kata William kepada Liputan6.com, Rabu, 10 Juli 2019.

Bicara soal kuliner memang lebih merujuk pada selera. William juga melihatnya orang akan mencoba makanan kreasi sesekali. Namun ketika rasanya cocok di lidah, mungkin akan sering menyantapnya.

“Karena orang Indonesia tidak selalu mencari makanan kreasi. Mereka akan lebih menyukai comfort food atau makanan yang biasa dimakan,” jelasnya.

2 dari 3 halaman

Tren Kuliner yang Instagramable

Ilustrasi makan (dok. Pixabay.com/Putu Elmira)

Saat ini, konten yang menampilkan makanan di Instagram sangat marak hadir dengan tampilan apik alias instagramable. Hal tersebut juga jadi salah satu poin penting dalam menarik publik.

“Tren kuliner yang instagramable seperti ‘rasa’ hadir dilihat mata. Banyak orang mencoba masakan kreasi karena jadi pembicaraan di blog-blog namun soal selera itu masing-masing,” jelas William Wongso.

Di balik itu, tren kuliner yang akan tetap bertahan lama adalah comfort food. “Karena 90 persen orang makan comfort food. Kalau di Jakarta, mi adalah sajian yang paling banyak dicari,” tambahnya.

Selain tren masakan kreasi, William Wongso memiliki harapan besar terhadap generasi muda yang lebih menguasai masakan tradisional.

“Semoga banyak generasi muda yang mempelajari tradisi kuliner kalau pun ada hanya satu atau dua. Mereka lebih baik belajar dengan orang asli dari setiap masakan daerah dan itu masuk dalam kearifan lokal,” sambungnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: