Kurangi Ketergantungan Obat dari Luar, BPOM Fasilitasi Peneliti Lokal

JawaPos.com – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) bekerja sama dengan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) sepakat mendorong percepatan pengembangan industri farmasi. Tujuannya adalah untuk mewujudkan kemandirian dan meningkatkan daya saing industri farmasi, serta alat kesehatan dalam negeri.

Kesepakatan tersebut tertuang dalam nota kesepahaman (MoU) BPOM-Kemenristekdikti yang ditandatangani hari ini.

“Kami melakukan MoU terkait dengan penelitian-penelitian yang sudah dilakukan (Kemenristekdikti). Nanti kami kembangkan. Output-nya, hasil penelitian tersebut bisa dikomersialisasi, dikembangkan untuk masyarakat,” ujar Kepala BPOM Penny K. Lukito di Hotel Ayana Midplaza, Jakarta, Senin (19/11).

Penny mengatakan, upaya mengakomodir hasil riset peneliti sesuai dengan Instruksi Presiden (Inpres) 6/2016. Tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan.

“Salah satu poinnya bekerja sama dalam mengawal pengembangan produk obat, obat tradisional, kosmetik, suplemen kesehatan, dan pangan,” ujar Penny.

“BPOM banyak melakukan pendampingan, fasilitasi. Baik pada saat pre-market yaitu pengembangan, sampai nanti siap untuk diproduksi di industri. Jadi ini adalah langkah pertama yang sangat baik,” lanjutnya.

Penny mengatakan, pihaknya mulai mencanangkan dengan membentuk konsorsium yang dikerjakan lintas sektor.

“Ada Kemenristekdikti, nanti akhirnya adalah Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian. Jadi memang ini membutuhkan kerja sama lintas sektor maka dibentuk forum konsorsium yaitu untuk produk-produk tertentu,” tutur dia.

Sementara itu, Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti Muhammad Dimyati mengatakan, konsorsium menjadi penting untuk membentuk sinergitas antara instansi terkait.

“Sehingga masyarakat tidak lagi bergantung kepada obat dari luar negeri,” jelas dia.

(yes/JPC)