Bukan Likuifaksi, Penjelasan Ahli soal Fenomena Tanah Bergerak di KBB

JawaPos.com – Peristiwa tanah bergerak yang terjadi di Desa Puncaksari, Sindangkerta, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Kamis (8/11), menimbulkan dampak cukup parah. Selain membuat keretakan tanah sepanjang 50 meter, sebanyak 48 rumah rusak, bahkan nyaris ambruk dan longsor.

Fenomena tersebut mengingatkan kepada kejadian likuifaksi yang terjadi bersamaan dengan gempa diserta tsunami di Sulawesi Tengah pada September lalu. Namun, meski kedua bencana itu berasal dari tanah, pengertian tanah bergerak dan likuifaksi berbeda.

“Peristiwa tanah bergerak di Bandung barat adalah fenomena gerakan tanah atau longsor tipe mendatang dan ratapan akibat hujan. Bukan likuifaksi,” ujar Peneliti Madya Bidang Geoteknik Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI Adrin Tohari saat dihubungi JawaPos.com, Jumat (9/11).

Dia menjelaskan, likuifaksi terjadi umumnya karena guncangan gempa bumi pada lapisan tanah berpasir gembur jenuh air. Sedangkan, peristiwa di Kampung Cihantap disebabkan oleh hujan lebat yang menyebabkan air dalam tanah naik, sehingga memicu gerakan tanah.

“Pemicu gerakan tanah tersebut adalah hujan. Faktor penyebabnya bisa kondisi geologi, kemiringan lereng atau hidrologi lereng,” katanya.

Kemudian, kedua fenomena alam tersebut juga memberikan dampak yang berbeda. Bergeraknya tanah dapat menimbulkan kerusakan bangunan, jalan, serta lahan pertanian.

Sementara itu, selain merusak infrastruktur dan lahan, likuifaksi bisa menenggelamkan tempat tinggal yang berada di atas tanah hingga memakan korban jiwa, seperti di Petobo, Kota Palu, Sulawesi Tengah.

“Gerakan tanah tipe nendatan dan rayapan akibat hujan bisa diamati dan diwaspadai, sehingga korban jiwa bisa dihindari. Kalau likuifaksi, tipe aliran yang di Palu tidak dapt dihindari karena semua tanah bergerak mengalir bersamaan guncangan gempa bumi,” papar Adrin.

(yes/JPC)