Kesaksian Mengerikan Frans Toni, Dosen Penyelam Puing Lion Air JT610

Proses pencarian penumpang dan badan pesawat Lion Air PK-LQP terus dilakukan oleh aparat dan relawan penyelam yang datang dari berbagai provinsi. Salah satunya penyelam asal Kalimantan Selatan, Frans Tony, warga Banjarbaru.

Frans bergabung sejak dimulainya pencarian. Yakni, pada Rabu (31/10) lalu. Tergeraknya dia untuk berangkat bergabung dalam tim rescue pencarian pesawat nahas itu setelah Pengurus Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (POSSI) pusat dilibatkan dalam pencarian.

Dia sendiri tergabung dalam Pengprov POOSI Kalsel. “Setelah mendapat izin dari ketua Pengprov POOSI Kalsel, saya pun langsung berangkat ke Jakarta untuk bergabung di tim relawan penyelam POSSI,” ujar Frans kemarin yang mengaku sedang bersiap melakukan penyelaman kembali, sebagaimana diberitakan Radar Banjarmasin (Jawa Pos Group), Senin (5/11).

Lion Air, Frans Toni penyelam, penyelam lion air Frans ToniSalah satu puing pesawat Lion Air JT-610 yang ditemukan Tim Basarnas di perairan Karawang, Jawa Barat. (Salman Toyibi/Jawa Pos)

Menyelam bagi Frans tak hanya sekadar hobi. Dosen di Universitas Lambung Mangkurat (ULM) ini tergabung di tim relawan nasional, meski baru kali ini dia dipercaya. Akan tetapi, kegiatan rescue penyelaman level lokal sudah digelutinya sejak masih duduk di bangku kuliah.

Tergabung sebagai relawan pada pencarian penumpang dan badan pesawat Lion Air, menurutnya, adalah suatu pembuktian atas kepercayaan pemerintah kepada dirinya. Bukan soal kebanggaan, namun karena jiwa sosial.

Frans mengungkapkan, menyelam di Perairan Tanjung Kerawang, Jawa Barat tempat pencarian puing pesawat, sejatinya arusnya tak berat. Begitu pula kedalamannya. Namun, yang membuat agak terhambat adalah warna air. “Arusnya normal, begitu pula kedalamannya,” sebut Frans.

Selama menyelam pada Rabu dan Kamis pekan lalu, Frans memang mengakui bahwa telah menemukan yang berhubungan dengan pesawat. Sayangnya, karena beberapa hal, dia enggan membeberkan secara gamblang apa saja yang dia temukan.

Dia hanya mengatakan bahwa kurang pas jika hal tersebut dipublikasikan. Memang kedengarannya mengerikan. “Kalau saya ceritakan akan vulgar. Biar satu pintu dari Basarnas saja informasi temuan,” katanya.

Begitu pula dengan salah seorang relawan penyelam SBOBET yang meninggal dunia ketika melakukan penyelaman. Frans tak ingin informasi mengenai akibat meninggalnya rekan penyelam tersebut simpang siur. Dia meminta lebih baik dari satu pintu yakni Basarnas.

Yang pasti, terangnya, relawan tersebut tidak tergabung atau bukan anggota relawan POSSI. “Relawan penyelam bukan POSSI saja, kami menyelam secara bergantian. Contohnya, saya setelah mencari hari Rabu dan Kamis. Hari Jumat dan Sabtu libur. Baru hari ini (Minggu) kembali dapat giliran,” terangnya.

Frans sendiri boleh dikatakan orang pertama yang mendirikan club selam di Kalsel. Dia ingat betul bahwa pada 2003 lalu, dia mendirikan club selam dengan nama Banjarbaru Diving Club. Selanjutnya pada 2007, Frans juga membentuk Unit Selam ULM yang pada unitnya terdapat Underwater Rescue. “Saat ini saya lebih banyak bantu rekan di BPBD maupun Tagana dalam memberikan pembelajaran menyelam di dasar laut,” tandasnya.

Pencarian dan evakuasi korban kecelakaan pesawat Lion Air dengan kode penerbangan JT 610 itu sendiri diperpanjang tiga hari mulai hari ini (5/11). Fokus utama adalah mencari jenazah korban yang berada tak jauh dari lokasi utama puing-puing pesawat yang kecelakaan pada Senin (28/10) itu. Jenazah korban juga dicari di pantai dari Tanjung Pakis sampai Pantai Sedari, Karawang sepanjang 20,24 kilo meter.