Pesan Terakhir Jannatun Cintya Dewi Sebelum Jatuhnya Lion Air JT 610

JawaPos.com – Penyerahan jenazah Jannatun dilakukan kemarin malam. Ayah Jannatun, Bambang Supriyadi, menerima langsung dokumen serah terima itu. Dengan terisak, dia menerima amplop merah yang diserahkan tim Lion Air dan DVI Polri. Tak ada sepatah kata pun yang diucapkannya. Dia langsung menuju kamar jenazah untuk melihat jenazah sang putri.

Tim DVI Brigjen Sumirat Dwiyanto mengatakan bahwa jenazah akan diterbangkan ke Sidoarjo hari ini.

Dikenal Ceria dan Cerdas

Pesan Terakhir Jannatun Cintya Dewi Sebelum Jatuhnya Lion Air JT 610Peti jenazah Jannatun Cintya Dewi saat dibawa tim DVI RS Polri, Jakarta, Rabu malam (31/10). (Miftahulhayat/Jawa Pos)

Jona -sapaan Jannatun lainnya- lebih dari setahun terakhir tinggal di Jakarta. Putri pasangan Bambang Supriyadi dan Surtiyem itu bekerja sebagai staf di Kementerian ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral).

Kediaman keluarga perempuan yang masih lajang itu kemarin dipenuhi karangan bunga dukacita. “Bapak sama ibu sekarang di Jakarta,” ujar Nadzir Ahmad Firdaus, adik kandung Cintya.

Nadzir menjelaskan, keluarganya kali pertama mendapat kabar kecelakaan itu beberapa jam setelah pesawat dikabarkan jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat. Ayah dan ibunya pun langsung bergegas ke Jakarta untuk mencari kepastian.

“Kaget, shock, lemas, jadi satu,” ucapnya lirih.

Cintya, kata Nadzir, ke Pangkalpinang untuk melaksanakan tugas kantor. Sehari-hari, lanjut dia, kakak sulungnya tersebut dikenal periang dan cerdas.

Cintya bahkan mampu menyelesaikan pendidikan jenjang SMA dalam waktu dua tahun. “Dulu sekolahnya di SMAN 1 Sidoarjo,” jelas Nadzir yang kini kelas XII di sekolah yang sama itu.

Selain Cintya, korban jatuhnya Lion Air yang dari Sidoarjo adalah Moejiono. Dia tercatat sebagai warga Ngingas, Waru.

Nadzir melanjutkan, selepas SMA, kakaknya melanjutkan pendidikan di Jurusan Teknik Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Cintya kemudian bekerja di Jakarta setelah lulus dari ITS pada 2015. Pekerjaan pertamanya di salah satu bank swasta.

“Di sela-sela bekerja, daftar di kementerian (ESDM), ternyata diterima,” kenangnya.

Cintya, tutur sang adik, rutin pulang ketika libur panjang. Bahkan, tidak jarang, pada akhir pekan, ketika pekerjaannya tidak sedang menumpuk, dia juga menyempatkan mudik.

Tiap kali mudik ke Sidoarjo, Cintya lebih suka menghabiskan waktu di rumah. Entah untuk menonton televisi atau membaca buku. Hanya sesekali, kata Nadzir, kakaknya itu main.

Dalam percakapan terakhir mereka melalui aplikasi WhatsApp, Cintya berpesan kepada sang adik agar rajin belajar. Biar bisa, kata Nadzir mengutip sang kakak, pintar dan bekerja di pemerintahan. Berbakti kepada negara.

“Malam sebelum kejadian Mbak Cintya sempat kirim-kiriman pesan dengan orang tua, tidak ada yang janggal. Biasa semua,” katanya sembari menyeka air mata yang mulai berlinang di pipi.

(idr/lyn/edi/far/lyn/wan/c10/c9/ttg/agm)